Sabtu, 18 Juni 2011

SISTEM URINARIA

2.1 Struktur Anatomis Sistem Urinaria
Sistem urinaria atau sistem perkemihan merupakan suatu sistem yang mengalami proses penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat-zat yang yang tidak dipergunakan oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih dipergunakan oleh tubuh. Zat-zat yang tidak dipergunakan lagi oleh tubuh larut dalam air dan dikeluarkan dalam bentuk urin (air kemih).
Sistem urinaria terdiri dari beberapa bagian,yakni sebagai berikut:
a) dua ginjal (ren) yang menghasilkan urin,
b) dua ureter yang membawa urin dari ginjal ke vesika urinaria (kandung kemih),
c) satu vesika urinaria (VU), tempat urin dikumpulkan, dan
d) satu urethra, urin dikeluarkan dari vesika urinaria.




2.1.1 Ginjal (Ren)
Ginjal adalah sepasang organ tubuh yang berfungsi mengeluarkan atau memisahkan produk buangan metabolisme dari darah.
a. Letak Ginjal

Ginjal terletak di bagian belakang kavum abdominalis, di belakang peritorium pada kedua sisi vertebra lumbalis III, dan melekat langsung pada dinding belakang abdomen.
b. Bentuk Ginjal
Berbentuk seperti biji kacang koro berwarna merah cokelat dan jumlahnya sepasang (kiri dan kanan). Ginjal memiliki ukuran panjang sekitar 11 cm, lebar sekitar 6 cm, dan tebal sekitar 3 cm. Pada umumnya ginjal laki – laki lebih panjang dan lebih berat daripada ginjal wanita yaitu pada pria sekitar 125-170 gram sedangkan pada wanita sekitar 115-155 gram.


c. Struktur Ginjal

Ginjal terbungkus oleh kapsula renalis yang terdiri dari jaringan fibrus berwarna ungu tua, lapisan luar terdapat lapisan korteks, dan lapisan sebelah dalam bagian medula berbentuk kerucut yang disebut renal piramid. Renal piramid terdiri atas lubang-lubang kecil yang disebut papila renalis. Sedangkan garis-garis yang terlihat pada piramid disebut tubulus. Berikut ini merupakan bagian-bagian ginjal :
1) Jaringan Ikat Pembungkus
a) Fasta Renal, yaitu pembungkus terluar
b) Lemak Perirenal, yaitu jaringan adipose yang terbungkus Fasia Ginjal
c) Kapsul Fibrosa, yaitu membran halus transparan yang langsung membungkus ginjal
2) Hilus, yaitu tingkat kecekungan tepi medial ginjal.
3) Pyleum, yaitu bagian atas dari ureter
4) Kaliks mayor atau minor, yaitu organ atau rongga berbentuk mangkok, cabang-cabang pyelum yang masuk pada ginjal
5) Pyramis renalis, yaitu kumpulan tubulus rektus yang bermuara di calyces
6) Kaliks, yaitu organ atau rongga berbentuk mangkok.
7) Papilla renalis, yaitu ujung piramid ginjal yang tumpul.
8) Sinus ginjal, yaitu rongga berisi lemak yang membuka pada hilus.
9) Pelvis ginjal, yaitu perluasan ujung proksimal ureter.
10) Parenkim ginjal, yaitu jaringan ginjal yang menyelubungi struktur sinus ginjal,
a) Medula, terdiri dari piramida gi njal dan papila.
b) Korteks, tersusun dari tubulus dan pembuluh darah nefron.
11) Lobus Ginjal, terdiri dari satu piramida ginjal.
12) Ureter, yaitu fibromuskuler yang mengalirkan urin dari ginjal ke kandung kemih
d. Bagian-bagian Ginjal
1) Kulit Ginjal (Korteks)
Pada kulit ginjal terdapat bagian yang bertugas melaksanakan penyaringan darah yang disebut nefron. Pada tempat penyaringan darah ini banyak mengandung kapiler – kapiler darah yang tersusun bergumpal – gumpal disebut glomerolus. Tiap glomerolus dikelilingi oleh simpai bownman, dan gabungan antara glomerolus dengan simpai bownman disebut badan malphigi.
Penyaringan darah terjadi pada badan malphigi, yaitu diantara glomerolus dan simpai bownman. Zat – zat yang terlarut dalam darah akan masuk kedalam simpai bownman. Dari sini maka zat – zat tersebut akan menuju ke pembuluh yang merupakan lanjutan dari simpai bownman yang terdapat di dalam sumsum ginjal.
2) Sumsum Ginjal (Medula)
Sumsum ginjal terdiri beberapa badan berbentuk kerucut yang disebut piramid renal. Dengan dasarnya menghadap korteks dan puncaknya disebut apeks atau papila renis, mengarah ke bagian dalam ginjal. Satu piramid dengan jaringan korteks di dalamnya disebut lobus ginjal. Piramid antara 8 hingga 18 buah tampak bergaris – garis karena terdiri atas berkas saluran paralel (tubuli dan duktus koligentes).
Diantara piramid terdapat jaringan korteks yang disebut dengan kolumna renal. Pada bagian ini berkumpul ribuan pembuluh halus yang merupakan lanjutan dari simpai bownman. Di dalam pembuluh halus ini terangkut urine yang merupakan hasil penyaringan darah dalam badan malphigi, setelah mengalami berbagai proses.
3) Rongga Ginjal (Pelvis Renalis)
Pelvis Renalis adalah ujung ureter yang berpangkal di ginjal, berbentuk corong lebar. Sabelum berbatasan dengan jaringan ginjal, pelvis renalis bercabang dua atau tiga disebut kaliks mayor, yang masing – masing bercabang membentuk beberapa kaliks minor yang langsung menutupi papila renis dari piramid. Kliks minor ini menampung urine yang terus kleuar dari papila. Dari Kaliks minor, urine masuk ke kaliks mayor, ke pelvis renis ke ureter, hingga di tampung dalam kandung kemih (vesikula urinaria).
4) Struktur Makroskopis nefron
Nefron ialah kesatuan unit struktural dan fungsional ginjal. Pada tubuh manusia jumlah nefron kurang lebih adalah satu juta buah.
a) Bagian-bagian nefron
Nefron terdiri dari beberapa bagian, yaitu:
1) Glomerulus, yaitu gulungan kapiler yang dikelilingi kapsul Epitel berdinding ganda disebut “Kapsul Bowman”
 Lapisan Viseral
• Pedikel (kaki kecil)
• Filtration Slits (pori-pori dari celah)
• Barier Filtrasi Glomerular terdiri dari endotelium kapiler, membran dasar, filtration slits.
 Lapisan Parietal
2) Kapsula Bowman : Yang menerima cairan saringan dari glomerulus
3) Tubuli Kontorti Proksimal : Menghisap sebagian hasil saringan dan terdapat sel-sel epitel kuboit yang kaya akan mikrovilus.
4) Lengkung Henle
5) Tubuli Kontorti Distal : Menghisap sebagian saringan lanjutan dan membentuk segmen terakhir Nefron
6) Tubuli Rekti/Duktus Koligentes : Mengalirkan air kemih ke dalam pyelum. Tubulus ini akan mengalir ke sejumlah Tubulus Kontrortus Distal membentuk Duktus Pengumpul besar yang lurus. Selain itu, terjadi reasbsorbsi aktif ion Na dan pasir air di bawah kontrol ADH, serta sekresi aktif ion hidrogen
7) Apparatus Jukstaglomerular, berdekatan atau dekat dengan glomerulus ginjal.
b) Tipe nefron
Nefron memiliki dua tipe, yaitu:
1) Juxtamedullary, yakni terletak di pertemuan korteks dan medula, jumlahnya sedikit, ansa Henle sangat panjang, berfungsi utk memekatkan urin.
2) Cortical, yakni terdapat di 2/3 bagian luar korteks. Cortical merupakan tipe yg umum.
c) Letak Nefron
Nefron berdasarkan letak glomerulusnya terbagi menjadi tiga macam, yaitu:
1) Nefron kortikal yang superfisial
• Glomerulus 1 mm di bawah kapsula renalis
• Ansa henle pendek dengan kelokan di perbatasan antara medulla dalam dan luar

2) Nefron midkortikal
• Glomerulus di bagian tengah korteks
• Ansa henle ada yang panjang ada yang pendek
3) Nefron Jukstamedula
• Glomerulus ada di perbatasan korteks medulla
• Ansa henle panjang mencapai medulla bagian dalam sampai ke ujung papilla.
e. Sistem Persarafan
Ginjal mendapatkan persarafan dari fleksus renalis (vasomotor). Saraf ini berfungsi untuk mengatur jumlah darah yang masuk ke dalam ginjal, saraf ini berjalan bersamaan dengan pembuluh darah yang masuk ke ginjal.
f. Sistem Peredaran Darah
Ginjal mendapatkan darah dari aorta abdominalis yang mempunyai percabangan arteria renalis, arteri ini berpasangan kiri dan kanan. Arteri renalis bercabang menjadi arteria interlobularis kemudian menjadi arteri akuarta. Arteri interlobularis yang berada di tepi ginjal bercabang menjadi arteriolae aferen glomerulus yang masuk ke gromerulus. Kapiler darah yang meninggalkan gromerulus disebut arteriolae eferen gromerulus yang kemudian menjadi vena renalis masuk ke vena cava inferior.
Secara singkat, sistem peredaran darah pada ginjal dapat dilihat pada skema berikut:
Aorta  Arteri Renalis  A. Interlobaris  A. Arcuata  Arteriol Averen  Glomerulus  Arteriol Eferen  Kapiler Peritubular  V. Intelobularis V. Arcuata  V. Interlobaris  Vena Renalis  Vena Cava Inferior
g. Bagian-bagian yang menyuplai darah
1) Arteri Renalis
Percabangan Aorta Abdomen yang menyuplai masing-masing ginjal dan masuk ke Hilus melalui cabang Anterior dan Posterior.
2) Cabang Anterior dan Posterior Arteri Renalis membentuk Arteri-arteri Interiobaris yang mengalir diantara Piramida Ginjal.
3) Arteri Arkuarta
Berasal dari Arteri Interlobaris pada area pertemuan antara Korteks dan Medula.
4) Arteri Interlobaris
Merupakan percabangan arteri arkuarta di sudut kanan dan melewati Korteks.
5) Arteriol Aferen
Berasal dari Arteri Interlobaris yang membentuk Glomerulus.
6) Kapiler Peritubular
Yang mengelilingi Tubulus Proksimal dan Distal untuk memberi Nutrien pada Tubulus.
7) Kapiler Peritubuler mengalir ke dalam Vena Korteks yang kemudian membentuk Vena Interlobaris.

2.1.2 Ureter

Ureter adalah saluran fibromuskular yang mengalirkan urin dari ginjal ke kandung kemih. Terletak dibelakang peritoneum pada dinding abdomen (sebagian dibelakang rongga abdomen dan sebagian terletak dalam rongga pelvis). Bentuk memanjang, panjangnya ± 25-30 cm, dengan penampang 0,5 cm. dengan panjang ± 30 cm. Terdiri dari 2 saluran pipa, masing-masing bersambung dari ginjal ke kandung kemih (vesika urinaria). Struktur Ureter terdiri dari :
a. Selaput mukosa (permukaan bagian dalam), Lapisan otot sirkuler, Lapisan otot membujur, Jaringan ikat fibrosa (lapisan terluar)
b. Lapisan dinding ureter terdiri dari :
• Dinding luar jaringan ikat (jaringan fibrosa)
• Lapisan tengah otot polos
• Lapisan sebelah dalam lapisan mukosa
Lapisan dinding ureter menimbulkan gerakan – gerakan peristaltik tiap 5 menit sekali yang akan mendorong air kemih masuk ke dalam kandung kemih (vesika urinaria). Gerakan peristaltik mendorong urin melalui ureter yang dieskresikan oleh ginjal dan disemprotkan dalam bentuk pancaran, melalui osteum uretralis masuk ke dalam kandung kemih.
Ureter berjalan hampir vertikal ke bawah sepanjang fasia muskulus psoas dan dilapisi oleh pedtodinium. Penyempitan ureter terjadi pada tempat ureter terjadi pada tempat ureter meninggalkan pelvis renalis, pembuluh darah, saraf dan pembuluh sekitarnya mempunyai saraf sensorik.

2.1.3 Vesika Urinaria (VU) atau Kandung Kemih

Kandung kemih terletak dibelakang simfisis pubis, didalam rongga panggul, dimuka rectum pada laki laki, didepan uterus pada wanita. Mampu menampung urin sebanyak ± 500 cc. Bentuknya seperti kerucut yang dikelilingi oleh otot yang kuat atau seperti buah pir/kendi. Berhubungan dengan ligamentum vesika umbilikalis medius. Dapat mengembang dan mengempis seperti balon karet. Bagian vesika urinaria terdiri dari :
a. Fundus, yaitu bagian yang menghadap ke arah belakang dan bawah. Bagian ini terpisah dari rektum oleh spatium rectosivikale yang terisi oleh jaringan ikat duktus deferent, vesika seminalis dan prostate.
b. Korpus, yaitu bagian antara verteks dan fundus.
c. Verteks, yaitu bagian yang berhubungan dengan ligamentum vesika umbilikalis.
Keterangan :
1) Urakhus, yakni saluran pada janin yang menghubungkan kandung kemih dengan alantois, yang menetap selama hidup dengan tali (ligamentum umbilikalis medianum).
2) Ujung potongan peritoneum, yaitu ujung potongan membrane serosa yang melapisi dinding rongga abdomen dan pelvis (parietal) dan melapisi visera (visceral), kedua lapisan tersebut menutupi ruang potensial, rongga peritoneum.
3) Kelenjar prostate, yaitu kelenjar yang mengelilingi leher kandung kemih dan uretra pada laki-laki ; prostate turun membentuk secret cairan seminalis.
4) Kelenjar bulbouretral, yakni berkaitan dengan bulbus urethrae (bulbus penis)
5) Bulbus, yaitu sebuah massa bundar atau pembesaran (bulbus).
6) Uretra prostatik, yaitu saluran membranosa yang mengalirkan urin dari kandung kemih keluar tubuh.
7) Trigone (Daerah segitiga)
8) Ureter, yaitu saluran fibromuskular yang mengalirkan urin dari ginjal ke kandung kemih. Dinding kandung kemih terdiri dari lapisan :
a) Lapisan sebelah luar (peritoneum)
b) Lapisan otot (tunika muskularis)
c) Tunika submukosa
d) Lapisan bagian dalam (lapisan mukosa)

9) Peredaran darah vesika urinaria :
a) Umbilikalis distal → arteri vesikalis superior
b) Vena → anyaman
c) Pembuluh limfe → duktus limfatikus (sepanjang arteri umbilikalis)
10) Persarafan vesika urinaria
Diatur oleh torako lumbal dan cranial dari system persarafan otonom. Saraf parasimpatis meragsang muskulus detrusor dan melemahkan spingter dan sarap simpatis menahan muskulus detrusor dan spinker mengecil.

2.1.4 Uretra
Uretra merupakan saluran membranosa sempit yang berpangkal pada kandung kemih yang berfungsi menyalurkan air kemih dari kandung kemih keluar tubuh.
a. Uretra pada pria

Uretra pada pria berjalan berkelok-kelok melalui tengah-tengah prostate kemudian menembus lapisan fibrosa yang menembus tulang pubis ke bagian penis. Panjangnya ± 18 cm. Digunakan sebagai tempat pengaliran urine. Sistem reproduksi.
Uretra pada pria terdiri dari :
a) Uretra pars prostatika : Dari kandung kemih sampai dasae pelvis (di dalam glandula prostata)
b) Uretra pars membranacea: Menembus dinding pevis (1 cm) dan disini terdapat Spingter uretra eksterna
c) Uretra pars cavernosa : Meliputi penis sepanjang 14 cm
Sedangkan lapisan uretra pria terdiri dari :
a) Lapisan mukosa (lapisan paling dalam)
b) Lapisan submukosa

b. Uretra pada wanita

Uretra pada wanita terletak dibelakang simfisis pubis, berjalan miring sedikit kearah atas. Bentuk memanjang, dengan panjang ± 4 cm, musculus spingter uretrae pada ujung luar, glandula skene mengeluarkan lendir ke uretra. Hanya berfungsi sebagai tempat menyalurkan urine ke bagian luar tubuh. Lapisan uretra wanita terdiri dari :
a) Tunika muskularis (lapisan sebelah luar)
b) Lapisan spongeosa merupakan pleksus dari vena – vena
c) Lapisan mukosa (lapisan sebelah dalam)
Muara uretra pada wanita terletak di sebelah atas vagina (antara klitoris dan vagina) dan uretra di sini hanya sebagai saluran ekskresi.
Struktur urethra secara umum memiliki dinding yang terdiri dari 3 lapisan:
a) Lapisan otot polos, merupakan kelanjutan otot polos dari Vesika urinaria. Mengandung jaringan elastis dan otot polos. Sphincter urethra menjaga agar urethra tetap tertutup
b) Lapisan submukosa, lapisan longgar mengandung pembuluh darah dan saraf
c) Lapisan mukosa

2.2 Fungsi Sistem Urinaria
Sistem urinaria secara umum memiliki fungsi tertentu, yaitu:
a. Mengatur cairan ekstra sel melalui pembentukan dan ekskresi urin.
b. Volume plasma darah
c. Konsentrasi sisa metabolisme di darah
d. pH plasma
e. Konsentrasi elektrolit darah (misalnya K+, Cl-, HCO3-)

2.2.1 Ginjal
Adapun berbagai macam fungsi ginjal secara umum adalah sebagai berikut:
a. Ginjal memegang peranan penting dalam pengeluaran zat-zat toksis dan senyawa asing seperti obat, pestisida, toksin. Dan berbagai zat eksogen yang masuk ke dalam tubuh
b. Mempertahankan suasana keseimbangan cairan
c. Mengubah vitamin D inaktif menjadi bentuk aktif (1,25-dihidroksi-vitamin D3), suatu hormone yang merangsang absorbs kalsium di usus.
d. Mempertahankan keseimbangan garam-garam dan zat-zat lain dalam tubuh
e. Sintesis glukosa dari sumber non glokosa(gluconeogenesis) saat puasa berkepanjangan
f. Menghancurkan atau menginaktivasi berbagai hormone, seperti angiotensin II, glukoagon, insulin, dan hormone paratiroid
g. Mengeluarkan sisa-sisa metabolisme hasil akhir dari protein ureum, kreatin dan amoniak.
h. Mempertahankan keseimbangan kadar asam dan basa dari cairan tubuh. hal ini terjadi dari sintesis amonia dari asam amino.
i. Pengaturan konsentrasi ion-ion penting
j. Menghasilkan beberapa senyawa khusus:
• Hormone Eritopoietin yang beredar dalam tubuh. hormone eritropoietin merupakan hormone perangsang kecepatan pembentukan dan pelepasan eritrosit.
• Renin, yaitu enzim proteolitik yang berperan dalam pengaturan volum CES dan tekanan darah.
• Kalikrein, yaitu enzim proteolitik dalam pembentukan kinin, suatu vasodilator
• Beberapa macam prostaglandin dan tromboksan, yaitu derivate asam lemak yang bekerja sebagai hormone lokal. Prostaglandin E2 dan 11 di ginjal menimbulkan vasodilatasi, meningkatkan ekskresi garam dan air, serta merangsang pelepasan renin. Sedangkan tromboksan bersifat vasokonstriktor.

2.2.2 Nefron
Nefron adalah unit struktural dan fungsional dari ginjal. Masing-masing ginjal memiliki kira-kira 1 juta nephron di dalamnya. Nephron berhubungan dengan pembuluh darah, disitulah urin terbentuk. Masing-masing nefron memiliki dua bagian mayor: bagian corpuscle dan bagian tubulus. Masing-masing bagian tersebut terbagi atas beberapa subdivisi.


2.2.3 Renal Corpuscle
Renal corpuscle terdiri dari glomerulus yang dikelilingi oleh kapsula bowman. Glomerulus adalah jaringan kapiler-kapiler yang muncul dari arteriol aferen dan berakhir di arteriol eferen. Diameter dari arteriol eferen lebih kecil daripada arteriol aferen, yang membantu menjaga tekanan darah secara merata di glomerulus.
Kapsula bowman (kapsul glomerulus) membentang dan berakhir di tubulus; kapsula bowman mengelilingi glomerulus. Lapisan bagian dalam dari capsula bowman terbuat dari sel podosit, yang artinya kaki sel, dan kaki podosit berada di permukaan dari kapiler glomerulus. Gabungan dari podosit membentuk pori-pori, yang membuat bagian ini menjadi semipermeabel. Lapisan bagian luar dari kapsula bowman tidak memiliki pori-pori dan tidak permeable. Jarak antara lapisan bagian dalam dan luar dari kapsula bowman mengandung filtrat ginjal, cairan yang terbentuk dari darah yang melewati glomerulus yang nantinya akan berubah menjadi urin.

2.2.4 Tubulus Renalis
Tubulus renalis adalah lanjutan dari capsula bowman dan terdiri dari bagian-bagian sebagai berikut: tubulus contortus proximalis (di bagian cortex), loop of henle (di bagien medula), dan tubulus kontortus distalis (di bagian cortex). Bagian distal dari beberapa kontortus berakhir di pembuangan yaitu tubulus colektivus. Beberara duktus kolektivus bersatu membentuk dukktus papilari yang membuang urin ke dalam calix.
Betapa tipis nya dinding pada tubulus kontortus proximalis. Karakteristik anatomik tersebut mendukung efisiensi pertukaran material, seperti yang anda bisa lihat.
Semua bagian dari tubulus renalis dikelilingi oleh peritubulari capilary, yang muncul dari arteriol efferen. Peritubulari capilary akan menerima material yang direabsorbsi oleh tubulus renalis; hal ini menjelaskan bagaimana urin dapat terbentuk.
2.2.5 Pembuluh darah ginjal
Jalur aliran darah yang melewati ginjal adalah bagian yang sangat penting dari pembentukan urin. Darah yang berasal dari aorta abdominalis masuk ke renal arteri, yang memanjang kedalam ginjal menjadi arteri-arteri kecil. Bagian terkecil dari arteri muncul menjadi arteriol aferen di renal cortex. Dari arteriol aferen darah mengalir kedalam glomeruli, lalu ke arteriol eferen, dilanjutkan ke peritubulari kapiler, masuk ke vena didalam ginjal, lalu keluar menjadi vena renalis, dan akhirnya berakhir ke vena cava inferior.

2.2.6 Ureter
Masing-masing ureter memanjang dari hilus ginjal ke bagian bawah belakang vesica urinaria. Seperti ginjal, ureter terletak di retroperitoneum (belakang peritoneum) di bagian dorsal rongga abdominal.
Otot polos dinding ureter berkontraksi secara berkala untuk mendorong urin ke vesica urinaria (kandung kemih). Ureter akan menekan bagian akhir bawah untuk mencegah adanya aliran balik.

2.2.7 Vesica Urinaria (Kandung Kemih)
Vesica urinaria bekerja sebagai reservoir dari akumulasi urin, dan berkontraksi untuk membuang urin. Bagian mucosa vesica urinaria adalah sel epitel transisional, yang dapat memperluas diri tanpa merusak dinding nya. Pada lantai bawah vesica terdapat area berbentuk segitiga yang disebut trigone, yang tidak memiliki rugae seperti dibagian lain dan tidak dapat memperluas diri. Pada sudut-sudut trigone terdapat lubang, yaitu pintu masuk dari ureter dan pintu keluar ke urethra.
Pada Vasica Hepatica terjadi Proses Miksi (Rangsangan Berkemih). Distensi kandung kemih, oleh air kemih akan merangsang stres reseptor yang terdapat pada dinding kandung kemih dengan jumlah ± 250 cc sudah cukup untuk merangsang berkemih (proses miksi). Akibatnya akan terjadi reflek kontraksi dinding kandung kemih, dan pada saat yang sama terjadi relaksasi spinser internus, diikuti oleh relaksasi spinter eksternus, dan akhirnya terjadi pengosongan kandung kemih.
Rangsangan yang menyebabkan kontraksi kandung kemih dan relaksasi spinter interus dihantarkan melalui serabut – serabut para simpatis. Kontraksi sfinger eksternus secara volunteer bertujuan untuk mencegah atau menghentikan miksi. kontrol volunter ini hanya dapat terjadi bila saraf – saraf yang menangani kandung kemih uretra medula spinalis dan otak masih utuh. Bila terjadi kerusakan pada saraf – saraf tersebut maka akan terjadi inkontinensia urin (kencing keluar terus – menerus tanpa disadari) dan retensi urine (kencing tertahan).
Persarafan dan peredaran darah vesika urinaria, diatur oleh torako lumbar dan kranial dari sistem persarafan otonom. Torako lumbar berfungsi untuk relaksasi lapisan otot dan kontraksi spinter interna. Peritonium melapis kandung kemih sampai kira – kira perbatasan ureter masuk kandung kemih. Peritoneum dapat digerakkan membentuk lapisan dan menjadi lurus apabila kandung kemih terisi penuh. Pembuluh darah Arteri vesikalis superior berpangkal dari umbilikalis bagian distal, vena membentuk anyaman dibawah kandung kemih. Pembuluh limfe berjalan menuju duktus limfatilis sepanjang arteri umbilikalis.

2.2.8 Uretra
Uretra membawa urin dari vesica urinaria ke bagian luar. External urethral spincter terbentuk dari otot skeletal yang melingkar pada lantai bawah tulang pelvis, berada di bawah pengaturan volunter, sehingga kita dapat menahan kencing. Urutra juga merupakan tempat keluar cairan semen sebagaimana urin.
Adapun mekanisme pembentukan urin (air kemih), yakni dari sekitar 1200ml darah yang melalui glomerolus setiap menit terbentuk 120 – 125ml filtrate (cairan yang telah melewati celah filtrasi). Setiap harinyadapat terbentuk 150 – 180L filtart. Namun dari jumlah ini hanya sekitar 1% (1,5 L) yang akhirnya keluar sebagai kemih, dan sebagian diserap kembali. Pembentukan urin juga memiliki tahap-tahap tertentu, yaitu:
a. Proses filtrasi
Terjadi di glomerolus, proses ini terjadi karena permukaan aferent lebih besar dari permukaan aferent maka terjadi penyerapan darah, sedangkan sebagian yang tersaring adalah bagian cairan darah kecuali protein, cairan yang tersaring ditampung oleh simpai bowman yang terdiri dari glukosa, air, sodium, klorida, sulfat, bikarbonat dll, diteruskan ke seluruh ginja.
b. Proses reabsorpsi
Terjadi penyerapan kembali sebagian besar dari glukosa, sodium, klorida, fosfat dan beberapa ion karbonat. Prosesnya terjadi secara pasif yang dikenal dengan obligator reabsorpsi terjadi pada tubulus atas. Sedangkan pada tubulus ginjal bagian bawah terjadi kembali penyerapan dan sodium dan ion karbonat, bila diperlukan akan diserap kembali kedalam tubulus bagian bawah, penyerapannya terjadi secara aktif dikienal dengan reabsorpsi fakultatif dan sisanya dialirkan pada pupila renalis.
c. Augmentasi (Pengumpulan)
Proses ini terjadi dari sebagian tubulus kontortus distal sampai tubulus pengumpul. Pada tubulus pengumpul masih terjadi penyerapan ion Na+, Cl-, dan urea sehingga terbentuklah urine sesungguhnya. Dari tubulus pengumpul, urine yang dibawa ke pelvis renalis lalu di bawa ke ureter. Dari ureter, urine dialirkan menuju vesika urinaria (kandung kemih) yang merupakan tempat penyimpanan urine sementara. Ketika kandung kemih sudah penuh, urine dikeluarkan dari tubuh melalui uretra.
d. Mikturisi
Peristiwa penggabungan urine yang mengalir melalui ureter ke dalam kandung kemih., keinginan untuk buang air kecil disebabkan penanbahan tekanan di dalam kandung kemih dimana sebelumnmya telah ada 170 – 23 ml urine. Miktruisi merupakan gerak reflek yang dapat dikendalikan dan dapat ditahan oleh pusat – pusat persyarafan yang lebih tinggi dari manusia, gerakannya oleh kontraksi otot abdominal yang menekan kandung kemih membantu mengosongkannya.
Mikturisi juga merupakan proses pengosongan kandung kemih setelah terisi dengan urin. Mikturisi melibatkan 2 tahap utama, yaitu:
1) Kandung kemih terisi secara progresif hingga tegangan pada dindingnya meningkat melampaui nilai ambang batas (Hal ini terjadi bila telah tertimbun 170-230 ml urin), keadaan ini akan mencetuskan tahap ke 2.
2) Adanya refleks saraf (disebut refleks mikturisi) yang akan mengosongkan kandung kemih.
Pusat saraf miksi berada pada otak dan spinal cord (tulang belakang) Sebagian besar pengosongan di luar kendali tetapi pengontrolan dapat di pelajari “latih”. Pada sistem saraf simpatis, impuls menghambat Vesika Urinaria dan gerak spinchter interna, sehingga otot detrusor relax dan spinchter interna konstriksi. Sedangkan pada sistem saraf parasimpatis, impuls menyebabkan otot detrusor berkontriksi, sebaliknya spinchter relaksasi terjadi mikturisi normal (tidak nyeri).
a) Ciri-ciri urin normal
• Rata-rata dalam satu hari 1-2 liter, tapi berbeda-beda sesuai dengan jumlah cairan yang masuk.
• Warnanya bening oranye tanpa ada endapan.
• Baunya tajam.
• Reaksinya sedikit asam terhadap lakmus dengan pH rata-rata 6.
b) Sifat fisis urin
Urin atau air kemih memiliki beberapa sifat fisis, yaitu:
• Jumlah ekskresi dalam 24 jam ± 1.500 cc tergantung dari pemasukan (intake) cairan dan faktor lainnya.
• Warna, bening kuning muda dan bila dibiarkan akan menjadi keruh.
• Warna, kuning tergantung dari kepekatan, diet obat-obatan dan sebagainya.
• Bau, bau khas air kemih bila dibiarkan lama akan berbau amoniak.
• Berat jenis 1,015-1,020.
• Reaksi asam, bila lama-lama menjadi alkalis, juga tergantung dari pada diet (sayur menyebabkan reaksi alkalis dan protein memberi reaksi asam).
c) Komposisi urin
Selain sifat fisis, urin juga memiliki komposisi tertentu pada diri seseorang, yakni terdiri dari:
• Air kemih terdiri dari kira-kira 95% air.
• Zat-zat sisa nitrogen dari hasil metabolisme protein, asam urea, amoniak dan kreatinin.
• Elektrolit, natrium, kalsium, NH3, bikarbonat, fospat dan sulfat.
• Pagmen (bilirubin dan urobilin).
• Toksin
• Hormon

2.3 Penyakit pada Sistem Urinaria
2.3.1 Infeksi Saluran Kemih
Infeksi saluran kemih atau Urinarius Tractus Infection (UTI) adalah suatu istilah umum yang dipakai untuk mengatakan adanya invasi mikroorganisme pada saluran kemih (Agus Tessy, Ardaya, Suwanto, 2001). Infeksi saluran kemih dapat mengenai baik laki-laki maupun perempuan dari semua umur baik pada anak-anak remaja, dewasa maupun pada umur lanjut. Akan tetapi, dari dua jenis kelamin ternyata wanita lebih sering dari pria dengan angka populasi umur kurang lebih 5 – 15 %. Infeksi saluran kemih pada bagian tertentu dari saluran perkemihan yang disebabkan oleh bakteri terutama Escherichia coli ; resiko dan beratnya meningkat dengan kondisi seperti refluks vesikouretral, obstruksi saluran perkemihan, statis perkemihan, pemakaian instrumen uretral baru, septikemia (Susan Martin Tucker, dkk, 1998).
Infeksi traktus urinarius pada pria merupakan akibat dari menyebarnya infeksi yang berasal dari uretra seperti juga pada wanita. Namun demikian, panjang uretra dan jauhnya jarak antara uretra dari rektum pada pria dan adanya bakterisidal dalam cairan prostatik melindungi pria dari infeksi traktus urinarius. Akibatnya UTI pada pria jarang terjadi, namun ketika gangguan ini terjadi kali ini menunjukkan adanya abnormalitas fungsi dan struktur dari traktus urinarius.
a. Etiologi (faktor Penyebab)
Menurut etiologi, penyebab UTI yang terbanyak adalah:
1) Bakteri (Eschericia coli)
2) Jamur dan virus
3) Infeksi ginjal
4) Prostat hipertropi (urine sisa)
b. Patofisiologi
UTI disebabkan oleh adanya mikroorganisme patogenik dalam traktus urinarius. Mikroorganisme ini masuk melalui: kontak langsung dari tempat infeksi terdekat, hematogen, limfogen. Ada dua jalur utama terjadinya UTI, asending dan hematogen.
Secara asending, yaitu masuknya mikroorganisme dalam kandung kemih, antara lain: faktor anatomi dimana pada wanita memiliki uretra yang lebih pendek daripada laki-laki sehingga insiden terjadinya UTI lebih tinggi, faktor tekanan urin saat miksi, kontaminasi fekal, pemasangan alat kedalam traktus urinarius (pemeriksaan sistoskopis, pemakain kateter), adanya dekubitus yang terinfeksi naiknya bakteri dari kandung kemih ke ginjal.
Secara hematogen yaitu sering terjadi pada psien yang sistem imunnya rendah sehingga mempermudah penyebaran infeksi secara hematogen ada beberapa hal yang mempengaruhi struktur dan fungsi ginjal sehingga mempermudah penyebaran hematogen, yaitu: adanya bendungan total urine yang mengakibatkan distensi kandung kemih, bendungan intrarenal akibat jaringan parut, dan lain-lain.
c. Macam-macam UTI
1) Uretritis (pada uretra)
Urethritis ialah inflamasi pada urethra atau saluran kencing disebabkan karena infeksi. Urethritis juga merupakan salah satu sindroma dari penyakit menular seks (PMS),urethritis secara spesifik dapat terbagi 2 yaitu gonococal urethritis dan nongonococal urethritis. Urethritis merupakan peradangan pada saluran kencing atau urethra, yang terjadi pada lapisan kulit urethra, disebabkan oleh bakteri-bakteri yang menyerang saluran kemih seperti Chlamydia trachomatis, neisseria gonorrhoae, tricomonal vaginalis dan lain-lain.
Banyak faktor yang mempengaruhi patogenesis penyakit urethritis diantaranya:
a) Jenis kelamin
Kenis kelamin merupakan factor yang cukup mempengaruhi patogenesis dari urethritis, wanita cenderung terkena urethritis karena urethranya lebih pendek dari laki-laki dan uretranya cenderung didiami oleh basil gram negative.
b) Faktor Genetik
Banyak bukti yang mendukung bahwa faktor genetik mempengaruhi kerentanan terhadap bakteri-bakteri penyebab urethritis, golongan darah yang diturunkan dari faktor keturunan itu juga mempengaruhi tingkat kerentanan tubuh.
c) Faktor aktivitas seksual
Hal ini merupakan faktor yang paling dominan dari factor yang mempengaruhi terjadinya urethritis, wanita yang memiliki uretra lebih pendek dari laki-laki akibat dari perilaku seks bebas dapat menyebabkan terinfeksinya uretra, dan pada laki-laki yang perilaku seksualnya tidak normal seperti homoseksual bisa berjangkit penyakit-penyakit pada saluran kemih seperti urethritis, aktivitas seksual ini juga dapat mengakibatkan banyak penyakit-penyakit yang disebabkan karena aktivitas seksual yang terlalu bebas dan tidak steril.
2) Sistisis (pada kandung kemih)
Sistitis merupakan penyakit radang kandung kemih atau saluran kencing, mungkin kita lebih mengenalnya sebagai anyang-anyangan. Sistitis lebih banyak dialami oleh wanita daripada pria. Ini disebabkan oleh adanya perbedaan pada bentuk kelamin antara wanita dan pria. Pada wanita, uretra atau saluran kencing bagian bawah yang berfungsi untuk menyalurkan air kencing, lebih pendek dibandingkan pada pria. Hal ini menyebabkan kuman dan bakteri lebih mudah memasuki kandung kemih. Oleh karena itu, uretra pada wanita biasanya mengandung kuman seperti E. Coli, streptokokus, stolilokokus, atau basilus. Padahal seharusnya kandung kemih ini terbebas dari kuman.
Berikut ini adalah penyebab sistitis antara lain:
a) Saluran kencing mengalami infeksi karena kuman yang masuk melalui uretra atau karena daya tahan tubuh yang menurun.
b) Radang perkontinuitatum menyebar. Penyebaran ini terjadi karena organ tubuh yang sakit menempel pada organ yang masih sehat, misalnya kista ovarium yang mengeluarkan nanah menyebar ke organ genital yang lain.
c) Ada kuman yang menyebar melalui darah. Kuman ini biasanya berasal dari satu infeksi pada organ tubuh yang lain.
d) Pemakaian kateter (alat bantu kencing) atau benda-benda asing lainnya di dalam uretra.
e) Keluarnya mani atau keputihan secara berlebihan karena sanggama sehingga bisa memasuki uretra.
f) Pemeriksaan daerah dalam organ genital sehingga menyebabkan infeksi pada saluran kencing.
3) Pielonefritis (pada Ginjal)
Pielonefritis merupakan infeksi bakteri yang menyerang ginjal, yang sifatnya akut maupun kronis. Pielonefritis akut biasanya akan berlangsung selama 1 sampai 2 minggu. Bila pengobatan pada pielonefritis akut tidak sukses maka dapat menimbulkan gejala lanjut yang disebut dengan pielonefritis kronis. Pielonefritis merupakan infeksi bakteri pada piala ginjal, tunulus, dan jaringan interstinal dari salah satu atau kedua gunjal (Brunner & Suddarth, 2002: 1436). Pielonefritis merupakan suatu infeksi dalam ginjal yang dapat timbul secara hematogen atau retrograd aliran ureterik (J. C. E. Underwood, 2002: 668).
Escherichia coli (bakteri yang dalam keadaan normal ditemukan di usus besar) merupakan penyebab dari 90% infeksi ginjal diluar rumah sakit dan penyebab dari 50% infeksi ginjal di rumah sakit. Infeksi biasanya berasal dari daerah kelamin yang naik ke kandung kemih. Pada saluran kemih yang sehat, naiknya infeksi ini biasanya bisa dicegah oleh aliran air kemih yang akan membersihkan organisme dan oleh penutupan ureter di tempat masuknya ke kandung kemih. Berbagai penyumbatan fisik pada aliran air kemih (misalnya batu ginjal atau pembesaran prostat) atau arus balik air kemih dari kandung kemih ke dalam ureter, akan meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi ginjal.
Infeksi juga bisa dibawa ke ginjal dari bagian tubuh lainnya melalui aliran darah. Keadaan lainnya yang meningkatkan resiko terjadinya infeksi ginjal adalah:
a) kehamilan
b) kencing manis
c) keadaan-keadaan yang menyebabkan menurunnya sistem kekebalan tubuh untuk melawan infeksi.

2.3.2 Kanker Prostat
Jumlah penderita kanker prostat sudah menduduki peringkat tinggi. Hal ini dipengaruhi oleh perubahan gaya hidup masyarakat. Penyakit ini ditandai dengan hal-hal sebagai berikut:
a. Sering atau Sulit kencing
b. Urine berdarah dan nyeri saat berkemih
c. Nyeri saat ejaculasi dan sperma bercampur darah
d. Gangguan ereksi dan nyeri pinggul atau punggung
Pencegahan kanker ini dapat dilakukan dengan mengonsumsi makanan yang rendah kadar lemaknya dan tinggi kadar seratnya, misalnya brokoli, ikan salmon, tuna, dll. Akan lebih baik lagi bila mengonsumsi kacang-kacangan karena banyak asam lemak omega-3. Sedangkan beberapa bahan makanan yang mengandung senyawa pencegah sel kanker adalah jenis buah yang berwarna ungu, hitam atau merah, misalnya pada teh hijau, anggur, duwet, sayuran ungu dll. Untuk orang yang rawan terkena kenker prostat (usia lebih dari 50 tahun), dianjurkan melaksaakan test PSA (Prostat Specific Antigen) setahun sekali.

2.3.3 Diabetes Mellitus (DM)
Penyakit Diabetes Mellitus (DM) yang juga dikenal sebagai penyakit kencing manis atau penyakit gula darah adalah golongan penyakit kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar gula dalam darah sebagai akibat adanya gangguan sistem metabolisme
dalam tubuh, dimana organ pankreas tidak mampu memproduksi hormon insulin sesuai kebutuhan tubuh.
Insulin adalah salah satu hormon yang diproduksi oleh pankreas yang bertanggung jawab untuk mengontrol jumlah/kadar gula dalam darah dan insulin dibutuhkan untuk merubah (memproses) karbohidrat, lemak, dan protein menjadi energi yang diperlukan tubuh
manusia. Hormon insulin berfungsi menurunkan kadar gula dalam darah.
Tanda awal yang dapat diketahui bahwa seseorang menderita DM atau kencing manis yaitu dilihat langsung dari efek peningkatan kadar gula darah, dimana peningkatan kadar gula dalam darah mencapai nilai 160 - 180 mg/dL dan air seni (urine) penderita kencing manis yang mengandung gula (glucose), sehingga urine sering dikerubuti semut.
Penderita kencing manis umumnya menampakkan tanda dan gejala dibawah ini meskipun tidak semua dialami oleh penderita :
a. Jumlah urine yang dikeluarkan lebih banyak (Polyuria)
b. Sering atau cepat merasa haus/dahaga (Polydipsia)
c. Lapar yang berlebihan atau makan banyak (Polyphagia)
d. Frekwensi urine meningkat/kencing terus (Glycosuria)
e. Kehilangan berat badan yang tidak jelas sebabnya
f. Kesemutan/mati rasa pada ujung syaraf ditelapak tangan & kaki
g. Cepat lelah dan lemah setiap waktu
h. Mengalami rabun penglihatan secara tiba-tiba
i. Apabila luka/tergores (korengan) lambat penyembuhannya

2.3.4 Testis Maldensus
Pada masa janin testis berada di rongga abdomen dan beberapa saat sebelum bayi lahir, testis mengalami desensus testikulorum ke kantung scrotum. Selanjutnya apabila proses tidak bejalan normal maka terjadi maldesensus.
a. Etiologi
1) Kelainan pada gubernakulum testis.
2) Kelainan intrinsik testis
3) Defisisnesi hormon gonadotropin yang memacu proses desensus testis.
b. Patofisiologi
Suhu rongga abdomen lebih kurang 1 0 C lebih tinggi dari suhu di dalam rongga scrotum, sehingga testis abdominal selalu mendapatkan suhu yang lebih tinggi dari testis normal. Hal ini mengakibatkan kerusakan sel-sel epitel germinal testis.
c. Gejal klinis
1) Tidak ditemukan testis di rongga scrotum.
2) Kulit scrotum mengalami hipoplasi karena tidak pernah ditempati scrotum.
d. Diagnosis
1) Secara klinis,
2) USG untuk mencari lokasi testis kadang sulit.
3) Flebografi untuk mencari plexus pampiniformis.
4) CT scan dan MRI
e. Terapi
Testis diturunkan dengan pembedahan maupun medikamentosa.



2.3.5 Hidrokel
Hidrokel adalah penumpukan cairan yang berlebihan di antara lapisan parietalis dan visceralis tunika vaginalis testis.
a. Etiologi
1) Belum sempurnya penutupan prosessus vaginalis
2) Belum sempurnanya sistem limfatik di scrotum dalam melakukan reabsorbsi cairan hidrokel.
b. Gejala klinik
1) Benjolan di scrotum tidak nyeri.
2) Pemeriksaan transilluminasi positif
c. Diagnosis
1) Klinis dan dapat dibantu dengan USG.
2) Dikenal ada 3 jenis hidrokel :
3) Hidrokel testis
4) Hidrokel funikuli
5) Hidrokel komunikans.
d. Terapi
1) Ditunggu sampai usia anak mencapai 1 tahun
2) Operasi ligasi pada anak, hidrokelektomi pada orang dewasa.

2.3.6 Varikokel
Varikokel adalah dilatasi abnormal dari vena plexus pampiniformis akibat gangguan aliran balik vena spermatika interna. Kelainan 15 % pada pria merupakan salah satu penyebab infetilitas pada pria ( 21 – 41 %).
a. Etiologi :
Penyebab secara pasti belum diketahui. Varikokel kiri lebih sering dari verikokel kanan (70-93 %), hal ini disebabkan oleh karena vena spermatika interna kiri bermuara pada vena renalis kiri dengan arah tegak lurus, sedangkan bermuara vena cava yang agak miring . Vena spermatika interna kiri lebih panjang dari yang kanan.
b. Gejala klinis dan diagnosis :
Benjolan diatas testis yang agak nyeri. Pemeriksaan dilakukan dalam posisi berdiri, kemudian palpasi scrotum, jika diperlukan pasien diminta melakukan manuver valsava, teraba bentukan seperti kumpulan cacing di dalam kantung sebelah cranial testis.
Dibedakan menjadi 3 derajat :
1) Kecil : varikokel dapat dipalpasi setelah manuver valsava.
2) Sedang : Varikokel dapat dipalpasi tanpa manuver valsava.
3) Besar : Varikokel dapat di lihat tanpa manuver valsava.
c. Terapi :
1) Dilakukan bila ada indikasi terjadi gangguan spermatogenesis. Ligasi tinggi vena spermatika interna secara Palomo.
2) Varikokelektomi cara Ivanisevich
3) Perkutan dengan memasukkan sklerosing kedalam vena spermatika interna.

2.3.7 Striktur Uretra
Striktura uretra adalah penyempitan lumen uretra disertai menurunnya
(hilangnya) elastisitas uretra karena fibrosis jaringan.
a. Etiologi
Penyebab striktur uretra adalah:
1) Kongenital
Hal ini jarang terjadi karena beberapa hal, misalnya:
• Meatus kecil pada meatus ektopik pada pasien hipospodia.
• Divertikula kongenital, merupakan penyebab proses striktura uretra.
2) Trauma
Merupakan penyebab terbesar striktura (fraktur pelvis, trauma uretra anterior, tindakan sistoskopi, prostatektomi,katerisasi).
a) Trauma uretra anterior, misalnya karena straddle injury. Pada straddle injury, perineal terkena benda keras, misalnya plantangan sepeda, sehingga menimbulkan trauma uretra pars bulbaris.
b) Fraktur/trauma pada pelvis dapat menyebabkan cedera pada uretra posterior. Jadi seperti kita ketahui, antara prostat dan os pubis dihubungkan oleh ligamentum puboprostaticum. Sehingga kalau ada trauma disini, ligamentum tertarik, uretra posterior bisa sobek. Jadi memang sebagian besar striktura uretra terjadi dibagian-bagian yang terfiksir seperti bulbus dan prostat. Di pars pendulan jarang terjadi cedera karena sifatnya yang mobile.
c) Kateterisasi juga bisa menyebabkan striktura uretra bila diameter kateter dan diameter lumen uretra tidak proporsional.
3) Infeksi, seperti uretritis, baik spesifik maupun non spesifik (GO, TBC).
Kalau kita menemukan pasien dengan urteritis akut, pasien harus diberi tahu bahwa pengobatannya harus sempurna. Jadi obatnya harus dibeli semuanya, jangan hanya setengah apalagi sepertiganya. Kalau pengobatannya tidak tuntas, uretritisnya bisa menjadi kronik. Pada uretritis akut, setelah sembuh jaringan penggantinya sama dengan iarinqan asal. Jadi kalau asalnya epitel squamous, jaringan penggantinya juga epitel squamous. Kalau pada uretritis kronik, setelah penyembuhan, jaringan penggantinya adalah jarinqan fibrous. Akibatnya lumen uretra menjadi sempit, dan elastisitas ureter menghilang. Itulah sebabnya pasien harus benar-benar diberi tahu agar menuntaskan pengobatnya.
4) Tumor
Tumor bisa menyebabkan striktura melalui dua cara, yaitu proses penyembuhan tumor yang menyebabkan striktura uretra, ataupun tumornya itu sendiri yang mengakibatkan sumbatan uretra.
b. Keluhan/gejala:
1) Pancaran air kencing lemah
2) Pancaran air kencing bercabang
Pada pemeriksaan sangat penting untuk ditanyakan bagaimana pancaran urinnya. Normalnya, pancaran urin jauh dan diameternya besar. Tapi kalau terjadi penyempitan karena striktur, maka pancarannya akan jadi turbulen. Mirip seperti pancaran keran di westafel kalau ditutup sebagiSdr.
3) Frekuensi
Disebut frekuensi apabila kencing lebih sering dari normal, yaitu lebih dari tuiuh kali. Apabila sering krencing di malam hari disebut nocturia. Dikatakan nocturia apabila di malam hari, kencing lebih dari satu kali, dan keinginan kencingnya itu sampai membangunkannya dari tidur sehingga mengganggu tidurnya.
4) Overflow incontinence (inkontinensia paradoxal)
Terjadi karena meningkatnya tekanan di vesica akibat penumpukan urin yang terus menerus. Tekanan di vesica menjadi lebih tinggi daripada tekanan di uretra. Akibatnya urin dapat keluar sendiri tanpa terkontrol. Jadi disini terlihat adanya perbedaan antara overflow inkontinensia (inkontinesia paradoksal) dengan flow incontinentia. Pada flow incontinenntia, misalnya akibat paralisis musculus spshincter urtetra, urin keluar tanpa adanya keinginan untuk kencing. Kalau pada overflow incontinence, pasien merasa ingin kencing (karena vesicanya penuh), namun urin keluar tanpa bisa dikontrol. Itulah sebabnya disebut inkontinensia paradoxal.
5) Dysuria dan hematuria
c. Patofisiologi
Proses radang akibat trauma atau infeksi pada uretra akan menyebabkan terbentuknya jaringan sikatrik pada uretra. Rangkaian patologi yang terjadi di sekitar uretra adalah:
1) Proses radang akibat trauma dan infeksi pada uretra
2) Jaringan sikatriks dinding uretra (striktur uretra)
3) Hambatan aliran urine-urine mencari jaln lain untuk keluar
4) Mengumpul di suatu tempat di luar uretra (peri uretra)
5) Jika terinfeksi timbul abses uretra, yang kemudian pecah
6) Fistula uretro kutan-fistula multiple.

2.4 Peran Sarjana Kesehatan Masyarakat dalam Pencegahan Penyakit pada Sistem Urinaria
Penyakit sistem urinaria menyerang bagian-bagian sistem urinaria yang terdiri dari ginjal, ureter, kandung kemih, dan uretra. Bagian-bagian sistem urinaria tersebut terletak didalam tubuh manusia dan jika terserang suatu penyakit maka harus segera diobati agar tidak menimbulkan efek yang lebih berbahaya bahkan dapat efek kematian. Namun ada suatu pepatah yang mengatakan bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati. Mencegah suatu penyakit adalah upaya untuk menjaga kesehatan tubuh karena kesehatan itu merupakan suatu barang yang sangat mahal harganya, oleh karena itu harus terus dijaga. Pencegahan inilah yang menjadi peran utama para Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM) dalam upaya preventif dan promotif kesehatan.
Penyakit pada sistem urinaria dapat disebabkan oleh berbagai faktor, oleh karena itu penyakit pada sistem urinaria juga dapat dicegah melalui berbagai faktor. Di Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) terdapat 7 departemen peminatan yang semuanya memiliki hubungan keterkaitan satu sama lain. Pencegahan suatu penyakit dapat juga dianalisis melalui 7 departemen peminatan tersebut, yaitu:
1. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku
Para SKM dapat memberikan promosi kesehatan berupa penyuluhan tentang penyakit pada sistem urinaria dan bahayanya. Selain itu juga dalam penyuluhannya para SKM dapat menanamkan hidup sehat dengan berolahraga secara teratur dan mengkonsumsi air putih yang cukup setiap hari. Setelah dilakukannya penyuluhan tersebut akan timbul kesadaran pada masyarakat untuk melakukan olahraga secara teratur walaupun bukan olahraga yang berat seperti jalan santai.
2. Administrasi Kebijakan dan Kesehatan
Para SKM dapat memastikan manajemen Rumah Sakit dan pusat pelayanan kesehatan yang baik dan memastikan kelengkapan alat untuk melakukan general chek up agar masyarakat dapat mendeteksi dini gangguan/penyakit sistem urinaria pada dirinya mulai dari periksa urin, darah, dan USG.
3. Gizi Kesehatan
Dapat memberikan penyuluhan saran tentang gizi yang seimbang dan sempurna agar tidak terserang penyakit pada sistem urinaria melalui berbagai media. Sebagai contoh adalah dengan mengurangi makanan yang berlemak karena makanan yang berlemak akan menyebabkan kandungan kolesterol dalam darah meningkat dan juga mengkonsumsi air putih minimal 8 gelas sehari untuk membersihkan timbunan kotoran dalam tubuh manusia.
4. Biostatistika dan Kependudukan
Mendata masyarakat yang sudah terserang penyakit pada sistem urinaria secara detail agar para SKM memiliki data yang jelas untuk merancanakan program atau upaya apa yang harus segera dilakukan untuk mengurangi dan mencegah penyakit pada sistem urinaria pada masyarakat.
5. Kesehatan Lingkungan
Menciptakan lingkungan yang bersih, bebas dari polusi, tersedia air yang bersih untuk diminum, dan sanitasi lingkungan yang baik agar kuman atau bakteri yang jahat tidak masuk ke dalam tubuh. Kesehatan lingkungan tidak hanya diciptakan oleh individu dalam keluarga, tatapi juga di lingkungan masyarakat dan wilayah kerja.
6. Kesehatan dan Keselamatan Kerja
Para SKM harus memastikan bahwa lingkungan kerjanya harus sehat. sebagai contoh yaitu lingkungan kerja harus bebas dari asap rokok, dilihat dari sudah pandang manapun merokok akan selalu merugikan tubuh. Karena rokok dengan kandungan nikotinnya dalam proses jangka waktu lama akan merusak organ-organ penting tubuh, baik paru-paru, kulit, jantung maupun ginjal.
7. Epidemiologi
Mencari apa yang menyebabkan penyakit pada sistem urinaria itu terjadi dan melakukan evaluasi terhadap program-program kesehatan yang telah dilakukan untuk mencegah penyakit pada sistem urinaria.

KESIMPULAN

Sistem urinaria atau sistem perkemihan merupakan suatu sistem yang mengalami proses penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat-zat yang yang tidak dipergunakan oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih dipergunakan oleh tubuh. Sistem urinaria terdiri dari beberapa bagian, yaitu dua ginjal (ren) yang menghasilkan urin, dua ureter yang membawa urin dari ginjal ke vesika urinaria (kandung kemih), satu vesika urinaria (VU), tempat urin dikumpulkan, dan satu urethra, urin dikeluarkan dari vesika urinaria.
beberapa macam fungsi ginjal secara umum, antara lain adalah sebagai tempat pengeluaran zat-zat toksis, mempertahankan suasana keseimbangan cairan, mempertahankan keseimbangan garam-garam dan zat-zat lain dalam tubuh, mengeluarkan sisa-sisa metabolisme hasil akhir dari protein ureum, kreatin dan amoniak, serta mempertahankan keseimbangan kadar asam basa dari cairan tubuh.
Ada berbagai penyakit yang dapat menyerang sistem urinaria seseorang, beberapa diantaranya adalah infeksi saluran kemih, kanker prostat, Diabetes Melitus, Testis Maldensus, Hidrokokel, Varikokel, dll. Setiap penyakit memiliki ciri tersendiri dari yang merupakan penyakit ringan sampai berat. Untuk itu, pencegahan dan pengobatan dalam penanganan kasus ini juga sangat beragam dan penting untuk diperhatikan.
Seorang SKM memiliki peran yang sangat penting untuk ikut berperan dalam mencegah terjadinya penyakit urinaria pada masyarakat. Cara yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pendekatan melalui tujuh departemen FKM, yaitu promosi kesehatan dan ilmu perilaku, administrasi kebijakan dan kesehatan, gizi kesehatan, biostatistika, kesehatan lingkungan, kesehatan dan keselamatan kerja, dan epidemiologi. Dengan memperhatikan ketujuh bidang itu maka pencegahan terhadap penyakit sistem urinaria akan lebih mudah dilakukan.




DAFTAR PUSTAKA

Andrajati, R. 2010. Sistem Urinaria. http://pharzone.com/materi%20kuliah/anfis%202/Ginjal%2010.pdf [Diakses tanggal 9 Juni 2011]
Anonim. 2011. Pisau dokter . http://pisaudokter.blogspot.com [Diakses tanggal 13 Mei 2011]
Anonim. 2008. Pencegahan Kanker Prostat. http://kiathidupsehat.com/tag/pencegahan-kanker-prostat/ [Diakses tanggal 20 Mei 2011]
Anonim. 2008. Sistem Urinaria. http://keperawatan-gun.blogspot.com/2008/05/system-urinaria.html [Diakses tanggal 20 Mei 2011]
Anonim. 2010. Striktur Uretra. http://dcolz.files.wordpress.com/2010/12/bph-z-man.pdf [Diakses tanggal 9 Juni 2011]
Arias, Kathleen Meehan. Investigasi dan Pengendalian Wabah di Fasilitas Pelayanan Kesehatan http://books.google.co.id/books [ diakses tanggal19 Mei 2011]
Davis,F. A. 2007. Essentials of Anatomy and Physiology
Ensiklopedia Penyakit. 2010.Sistitis. http://ensiklopediapenyakit.blogspot [Diakses tanggal 20 Mei 2011]
Ensiklopedia Penyakit. 2010. Pielonefritis. http://ensiklopediapenyakit.blogspot [Diakses tanggal 20 Mei 2011]
Guyton dan Hall. 2007. Buku Ajar FISIOLOGI KEDOKTERAN Edisi II. Jakarta: EGC
Handout Pak Umar Sumarna SKM.M.Kes
Syarifuddin,1992,Anatomi dan Fisiologi Untuk Keperawatan, Jakarta EGC.
Harnawati. 2008. Infeksi Saluran kemih. http://harnawatiaj.wordpress.com/2008/04/28/askep-infeksi-saluran-kemih/ [Diakses tanggal 13 Mei 2011]
Mazri.2010. Makalah UTI. http://mazrie.wordpress.com/2010/01/15/makalah-uti/ [Diakses tanggal 19 Mei 2011]
Pearce, Efelin C. 2006. Anatomi dan fisiologi untuk paramedic Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
Snell, Richard S. 2006. Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran. Jakarta: EGC
Syaifuddin. 1997. Anatomi Fisiologi Untuk Siswa Perawat. Jakarta: EGC

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar